Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2017

Bolong semua

Pak Bagus sewot. Ia datangi penjual kue donat sambik berkata: "Bu, tadi saya beli donat sepuluh ribu rupiah. Setelah saya buka di rumah ternyata tengahnya bolong semua." =====

Bapak dapat salam

Waktu magrib tiba, Pak Bagus berangkat ke musolla dekat rumah. Melihat Pak Bagus hadir, segera jamaah mempersilahkannya untuk maju ke depan menjadi imam solat. "Senang saya bapak datang ke musolla dan mau jadi imam solat. Bacaan bapak bagus." kata salah seorang jamaah kepada Pak Bagus seusai solat. Sejak saat itu Pak Bagus jadi rajin ke musolla setelah lama tak hadir-hadir. Melihat itu, anak perempuan Pak Bagus bertanya pada ibunya. "Apa yang ibu lakukan, sampai bapak mau musolla padahal sudah lama bapak lebih sering tinggal soaltnya?" "Bapakmu dulunya adalah orang yang tak pernah tinggal solatnya sampai kemudian pekerjaan melalaikan bapakmu dari solat. Lama ibu mengingatkan bapakmu yang malah terus mengeraskan hati dan sikapnya. Ibu selalu mendoakan bapakmu dan juga minta doa darimu agar bapakmu kembali seperti dulu. Sekarang bapakmu sudah mau kembali solat dan sikapnya pun terus menjadi baik. Tetap doakan bapakmu, nak." Kata ibu panjang. "...

Kita Belum Sampai

Pak Bagus hendak menginap di hotel. Setelah proses chek in, tas Pak Bagus di angkat seorang pegawai hotel dan mengantarkannya menuju kamar. Pegawai itu membuka pintu dengan menekan sebuah tombol. Setelah pintu terbuka, pegawai itu masuk diikuti oleh Pak Bagus. Ruangannya sempit dan tak ada tempat tidur. Gusar hati Pak Bagus. "Heh, bocah! Jangan kau kira karena saya orang kampung terus kau mau bohongi saya. Saya sudah bayar mahal untuk tidur di hotel ini. Mana tempat tidur dan kamar mandinya?" kata Pak Bagus. Pegawai hotel kaget mendapat bentakan dari Pak Bagus. Dalam hati mengelus dada, lalu berkata: "Pak, kita belum sampai kamar. Ini masih dalam lift." jawab pegawai hotel.  =====

Sangka

Ketika melakukan sebuah perjalanan, Pak Bagus terlambat solat dzuhur. Ia datang ke mesjid setelah jamaah solat telah bubar. Mesjid sepi dan solat sendiri. Usai solat, Pak Bagus baru tahu bahwa masih ada orang dalam mesjid duduk bersandar ke tiang besar di tengah mesjid. Laki-laki dengan berpakaian jubah dan jenggot lebat. "Teroris..." bisiknya hati Pak Bagus sebab tontonan yang sering ia lihat ciri-ciri teroris adalah berjenggot lebat. Sekilas pandangan mata Pak Bagus bertemu dengan orang itu. Cepat Pak Bagus mengalihkan pandangan dan mengakhiri doa ba'da solatnya. Pak Bagus berjalan hendak keluar mesjid. "Pak..." Panggil orang berjenggot itu. "Dompet bapak jatuh." Sambung lelaki itu sambil menunjukkan jari telunjuknya ke arah lantai mesjid tempat dompet Pak Bagus terjatuh. "Oh, iya. Terima kasih pak." Kata Pak Bagus. Dalam hati, Pak Bagus berkata: "Aku salah. Aku telah berburuk sangka padanya. Orang itu baik. Aku menca...

Untuk Kucing

Pak Bagus makan siang di rumah makan. Ukuran hidangan setiap porsinya lumayan banyak sehingga Pak Bagus tak dapat mengahabiskan makanan yang ia pesan. Seperti rumah makan pada umumnya, rumah makan yang dikunjungi Pak Bagus kali ini juga akan menghitung harga satu porsi walaupun makanan itu tidak habis dimakan. Pak Bagus berfikir kalau makanan ini dibungkus dan dibawa pulang, ia akan menghemat biaya untuk makan malam nanti. Maka ketika pelayan rumah makan menghitung jumlah harga yang harus dibayar, Pak Bagus berpesan: "Dek, ini makanan yang tidak habis tolong dibungkus untuk kucing saya di rumah." Kata Pak Bagus pada si pelayan rumah makan dan pelayanpun mengiyakannya. Sesampainya di rumah, Pak Bagus membuka bungkusan dari rumah makan tadi. Pak Bagus kaget melihat isi bungkusan yang ia bawa ternyata berisi tulang-tulang ikan bercampur dan sambal sisa berair yang sudah tidak mungkin lagi dimakan oleh manusia. Apa yang terjadi? Ternyata di dapur rumah makan tadi, kar...

Pak Bagus Gagal Paham

Pak Bagus baru pulang dari melayat. Wajahnya menunjukkan kebingungan berat. Kening berkerut menggambarkan sesuatu masalah tengah bertempur dalam pikirannya. Istri Pak Bagus segera memberikan segelas air bening berharap bisa membuat lebih tenang. Namun tidak juga berkurang kerutan di kening Pak Bagus. "Ada apa to, Pak?" Tanya istri Pak Bagus. "Itu kening berkerut, muka bingung. Apa sih yang dipikirin?" Sambung istri Pak Bagus. "Ga paham aku." Jawab Pak Bagus. "Apanya yang ga paham? Mbok yo... cerita. Siapa tahu bisa bantu." Kata istrinya. "Ga paham saya. Pak Anu yang baru meninggal adalah orang kaya di kampung kita. Rumahnya besar, mobilnya banyak, kebun juga luas. Tapi giliran mandi terakhirnya hari ini, mandinya ngga di kamar mandi. Ada yang bilang kamar mandinya kecil, jadi ngga muat." cerita Pak Bagus. "Terus ..., apanya yang ngga paham?" Tanya istri Pak Bagus. "Bagaimana aku mau paham? Ini adalah hari ...

Kena Tilang

Pak Bagus mengendarai sepeda motor. Karena cepatnya memacu sepeda motor, ia tak melihat ada lampu lalu lintas yang sedang berwarna merah. Pak Bagus dikejar polisi. Setelah dapat, Pak Bagus diminta menepi. "Bapak telah menerobos lampu lalu lintas yang sedang berwarna merah. Bapak tahu apa arti warna merah?" tanya polisi. "Berani, pak." jawab Pak Bagus tegas.  =====

Suatu Saat Akan Kau Rasakan

Bagus sedang nyatri di sebuah pondok pesantren. Karena kiriman uang setiap bulannya dari orang tuanya sedikit maka ia harus menghemat belanja. Makan pun ia sering berlaukkan garam atau kecap saja. Karena seringnya makan hanya dengan berlaukkan garam atau kecap saja, akhirnya keluarnya keluhan akan ketidakenakan nyantri yang ia jalani. Satu hari Bagus bercerita dan mengeluh akan keadaannya pada salah satu gurunya. "Guru, kehidupan orang tuaku miskin sehingga hanya sedikit uang yang bisa mereka kirim untukku membuatku sering hanya makan dengan garam dan kecap saja." ujar Bagus. Mendengar keluhan Bagus, gurunya berkata: "Bagus, bertahanlah dengan keadaanmu. Suatu saat kau rasakan betapa nikmat dan lezatnya keberhasilan yang kau dapat dari makan garam dan kecapmu hari ini."  =====

Ulang Tahun

Pak Bagus mempunyai anak semata wayang perempuan yang baru berusia 3 tahun bernama Putri. Saat tiba ulang tahun yang ke tiga, Pak Bagus ingin merayakan ulang tahun dengan mengundang banyak tamu untuk menyenangkan hati putrinya. Dihari pelaksanaan ketika tetamu sudah berdatangan, Pak Bagus dan istri siap mengapit putrinya untuk menyanyikan lagu "Hepi Besdey" yang akan disambung dengan acara potong kue. Ketika akan dimulai, tiba-tiba anak perempunya mendengar suara musik khas yang sangat ia dikenal dan setiap hari pasti lewat dekat rumahnya. "Es klim ..." Teriaknya "Papa, Putli mau es klim, Pa" pintanya. "Nanti aja es krimnya, sayang. Kita nyanyi lagu ulang tahun dulu, baru kita nanti beli es krim ya sayang." Kata Pak Bagus. "Nggak. Putli mau es klim." jawab anak perempuannya. "Iya. Tapi nanti ya sayang." bujuk Pak Bagus. "Sekalang." Jawab Putri menolak permintaan Pak Bagus. Kembali Pak Bagus membujuk...

Selamat Tahun Baru 1439 Hijriah

ku tuturkan padamu kawan mengucapkan selamat tahun baru 1439 hijriah semoga tahun ini kita semua menjadi pribadi-pribadi lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya =====

Ibu Beruntung

Si Bagus sedang jualan tiga keranjang buah jeruk di tepi jalan raya. "Jeruk manis... jeruk manis..." ucap Bagus menjajakan dagangannya. Seorang ibu yang rumahnya dekat dengan tempat Bagus menggelar dagangan datang menghampiri. "Jeruknya manis, dek?" tanya ibu tersebut. "Manis, bu." jawab Bagus mantap. "Kalau begitu saya beli sekilo" kata si ibu lalu memilih jeruk. Bagus menerima jeruk yang dipilih si ibu kemudian menimbangnya. Setelah membayar, ibu tersebut pulang. Sesampainya di rumah si ibu tadi langsung membuka plastik berisi jeruk yang baru dibelinya. Satu dicobanya ternyata rasanya sangat asam. Dicobanya lagi yang lain, rasanya sama saja, sangat asam. Mendapati buah jeruk yang rasanya asam semua, si ibu pu jadi marah. Dibawanya kembali buah jeruk yang sudah dibeli itu kepada si penjual. Sesampainya kepada si penjual "Dek, tadi bilang jeruknya manis. Setelah saya makan ternyata semuanya asam. Saya tidak terima. Kembal...

Sebelum Pulang

Si Bagus tengah duduk di teras depan ketika emaknya memanggil. Ia bergegas menuju tempat emaknya sedang berada. "Kau tidak main, Gus?" tanya emak "Tidak, mak." jawab Bagus. "Kau lihat sedang apa emak?" tanya emak selanjutnya "Sedang menampi beras, mak." jawab Bagus "Supaya apa?" "Supaya bersih, mak." "Memangnya kenapa kalau emak memasak beras ini tanpa harus dibersihkan?" tanya emaknya lagi Bagus berfikir sejenak, lalu ia menjawab "Kalau tidak bersih, makannya tidak enak, mak. Bikin penyakit." Si emak memandang Bagus dengan lembut lalu berkata "Gus, ayahmu telah tiada. Jika kelak engkau besar dan mendapat kerja, pastikan rezeki yang engkau bawa pulang adalah rezeki yang bersih dan telah engkau bersihkan. Agar hidup kelurgamu enak dan tidak sakit, nak" Pesan ibu. Bagus merenungkan pesan emaknya kemudian menjawab "Iya, mak" ======