Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2017

Hanya butuh waktu sebentar

Dua anak datang ke meja kasir dengan sebuah kue bolu bulat yang baru diambil dari etalase, meletakkannya dan merogoh uang dalam saku celananya. "Berapa harganya, Pak?" tanya anak itu "Enam puluh lima ribu, dek." kata kasir Dua anak itu berubah warna mukanya. "Maaf, Pak. Uangnya kurang. Boleh saya meletakkannya lagi di etalase?" tanya anak yang lebih besar. Sepertinya, kakaknya. "Iya, silakan." jawab kasir. "Biar saya membelinya, Pak." kata seorang laki-laki yang sedang menunggu antrian di belakang dua anak tadi sambil memegang beberapa macam barang belanjaan. "Ini untukmu, dek" kata laki-laki itu kepada dua anak yang membatalkan pembeliannya. "Tapi Pak..." "Ambillah. Bapak tadi dengan percakapan kalian berdua. Simpan uangmu, kau bisa gunakan untuk lainnya." kata laki-laki itu. Anak itu menerimanya walau wajah mereka terlihat masih ragu. Mohon diri dari hadapan laki-laki tadi. "P...

Nyonya Bagus

Nyonya Bagus belanja ke mall ditemani oleh Pak Bagus. Ia ingin membeli pakaian. "Pak, ini bagus nggak? Cocok nggak?" tanya Nyonya Bagus sambil menempelkan satu pakaian berwarna kuning. "Bagus" kata Pak Bagus setelah memperhatikan istrinya sejenak. Tawar menawar harga dilakukan oleh Nyonya Bagus, tak sepakat harga. Nyonya Bagus kembali mengajak Pak Bagus ke toko lain. "Pak, ini bagus nggak? Cocok nggak?" pertanyaan yang sama diulang setiap kali Nyonya Bagus memilih pakaian. Warna ungu, pink, coklat dan merah. Pertanyaan yang sama diberikan pada Pak Bagus. Pak Bagus kecapaian. Akhirnya Pak Bagus asal jawab "Iya, bagus." tapi tidak memperhatikan lagi pakaian-pakaian yang dipilih istrinya. "Nggak jadi lagi?" tanya Pak Bagus ketika istrinya mengajaknya pergi lagi tanpa jadi membayar pakaian yang sudah ditawar. "Kemahalan, Pak. Masak, harganya 210.000." kata istri Pak Bagus. Istri Pak Bagus mengajak ke...

Tidak Muat

Pak Bagus membonceng dua orang kawannya. Ia kendarai sepeda motornya sementara kawannya duduk berpegangan di belakangnya. Seorang polisi yang sedang mengatur lalu lintas melihat aksi Pak Bagus dan rekan-rekannya. Polisi meniup peluit dan memberi isyarat agar Pak Bagus menepikan sepeda motornya. "Maaf pak, sudah tidak muat." Kata Pak Bagus dengan suara yang keras ingin memastikan polisi itu mendengarnya. Pak Bagus terus memutar gas sepeda motor. =====

Yah, bukunya mana?

Pak Bagus pulang dari perjalanan luar kota. "Ayah pulang, ayah pulang ..." girang anak-anaknya menyambutnya menyerbu kadatangan si ayah yang segera diikuti oleh ibunya. "Salam ayah..." ujar istri Pak Bagus. "Kakak dulu..." kata si sulung meminta agar menyalami ayahnya lebih dulu. Pak Bagus segera mengulurkan tangan dan segera disambut oleh anak-anaknya dengan ciuman di tangan. Pak Bagus memeluk anak-anak, menghadiahkan ciuman sayang. "Oleh-olehnya mana, Yah?" tanya anak Pak Bagus yang nomor dua. "Itu..." kata Pak Bagus sambil mengarahkan jari telunjuknya. Anak-anak segera melepaskan diri dari pelukan ayahnya menuju bungkusan yang ditunjuk dan membukanya. "Yah, bukunya mana?" tanya si sulung. "Kok, makanan semua." sambungnya. "Iya. Ayah minta maaf ya? Ayah tak sempat ke toko buku. Nanti saja kita beli ke pasar, ya?" kata Pak Bagus. "Janji ya, Yah?" cecar anaknya. "Iya, ...

Ingatkan Aku

"Kakak, adek, sudah solat?" Begitu pertanyaan rutin yang selalu diberikan Pak Bagus pada anak-anaknya setiap kali ia pulang dari musolla usai solat. Kali ini juga ia melontarkan pertanyaan yang sama pada anak-anaknya. Entah untuk keberapa kalinya pertanyaan itu terlontar. "Aku...?" tiba-tiba istri Pak Bagus bersuara. Maksudnya, bertanya mengapa ia tak ditanya dengan pertanyan yang sama dengan pertanyaan pada anak-anaknya. "Ingatkan aku juga, mas. Masak anak-anak aja yang diingatkan untuk solat." kata istri Pak Bagus. "Eh, iya. Ummi sudah solat?" tanya Pak Bagus Selama ini Pak Bagus memang hanya melontarkan pertanyaan pada anak-anaknya. Jika anak-anak menjawab 'sudah' maka Pak Bagus akan memberikan kata pujian 'pinter' atau 'mantap'. Jika jawabannya 'belum' maka Pak Bagus akan segera meminta anak-anaknya bersegera dalam melaksanakan solat. Tak pernah Pak Bagus  melontarkan pertanyaan itu pada istrinya. Ia ...

Uang

Nyonya Bagus mengeluhkan uang belanja yang menipis. "Kalau begitu bersyukurlah, bu." Kata Pak Bagus. "Kenapa bisa begitu?" Tanya Nyonya Bagus. "Itu tandanya akan segera datang rezeki, bu." Kata Pak bagus. =====

Doa Pak Bagus

Pak Bagus mendapat tugas ke tanah Sumatera. Jauh dari kota. Untuk sampai ke tempat tugas harus menempuh jalan yang jelek, berbatu dan berlumpur. Selama di tempat tugas, Pak Bagus menjadi orang yang berbaur dengan masyarakat setempat. Sering Pak Bagus diminta menjadi khatib solat jumat, menjadi pembaca doa pada acara kenduri maupun selamatan. Pak Bagus sering juga diminta menjadi penceramah pada acara pengajian mingguan dimesjid. Setiap kali Pak Bagus menjadi penceramah di mesjid ataupun rumah-rumah masyarakat sering kali pendengar ceramahnya tertidur. Sebabnya, bisa jadi suara Pak Bagus yang lembut dan dialek khas Jawa yang bisa dikatakan dengan medok, berbanding terbalik dengan suara orang-orang setempat yang bervolume keras sebagai tipikal orang Sumatera. Namun demikian, Pak Bagus tak kapok dengan kejadian pendengar yang kerap tidur apabila ia ceramah itu. Ia tetap hadir dengan tepat waktu pada acara-acara pengajian yang diadakan oleh masyarakat setempat. Kerap juga ia diminta ...

Contoh

Bagus kecil suka nonton film kartun. Dilihatnya dalam film ada orang yang baik dan ada orang yang jahat. Melihat itu kemudian Bagus bertanya: "Mak, kenapa Allah menciptakan orang jahat?" Emaknya menjawab: "Supaya orang itu menjadi contoh untuk tidak boleh dicontoh."  =====

Mulai Sekarang

Pak Ali datang ke rumah Pak Bagus hendak meminjam buku. Sesampainya di rumah Pak Bagus, Pak Ali heran dengan jumlah buku Pak Bagus yang berkurang jumlahnya. "Pada kemana buku-bukumu Pak Bagus?" Tanya Pak Ali "Tidak tahu saya. Awalnya buku dipinjam si A. Dipinjam lagi oleh B, dipinjam C, D, E. Entahlah? Saya tidak tahu sama siapa buku-buku itu sekarang." Kata Pak jelas tak bisa menyembunyikan rasa kesalnya. "Saya ke sini mau pinjam buku, Pak Bagus." Kata Pak Ali. "Saya tidak meminjamkan buku lagi, Pak Ali. Kalau mau baca silakan baca saja di sini." Kata Pak Bagus. "Saya menulis makalah, Pak Bagus. Perlu referensi. Saya tinggalkan KTP deh, untuk jaminan kalau Pak Bagus khawatir." Kata Pak Ali "Nggak bisa, Pak Ali. Kalau mau ninggalin jaminan, silakan tinggalkan sepeda motor bapak." Kata Pak Bagus. "Busyet, pinjam buku jaminan sepeda motor?" Kata Pak Ali "Mulai kapan seperti itu, Pak Bagus?" ...

Rezeki

Pak Bagus mengikuti musyawarah pembangunan mesjid. Pada akhir acara dilakukan pengumpulan infaq pembangunan. Ia ambil uang satu lembar Rp. 50.000 yang merupakan satu-satunya penghuni dompetnya. Sesampainya di rumah, Ia ceritakan pada istrinya bahwa uang 50.000 telah ia keluarkan sebagai infaq keluarga. "Semoga Allah meridhoi dan memberi kita rezeki yang lebih, Pak." Kata istri Pak Bagus. Sebelumnya istri Pak Bagus telah bercerita bahwa uang belanja telah tammat. Sementara gajian baru akan terjadi sepuluh hari ke depan. Hitung-hitungan istri Pak Bagus butuh uang Rp. 120.000 sampai waktu gajian agar tak mengutang. Pak Bagus ingat kata-kata istrinya itu. Tapi, saat musyawarah ia bulatkan tekad untuk lebih mandahulukan berinfaq. Keesokaan sorenya, teman Pak Bagus datang. "Pak Gus, ini uang ngetik tugas saya minggu lalu. Maaf, telat bayarnya, Pak." Kata teman Pak Bagus sambil meberikan  tiga lembar uang seratus ribuan. "Allahu rabbi..." Pekik Pak ...

Lupa

Pak Bagus melompat-lompat. Duduk. Melompat-lompat lagi. Beberapa lagi berulng-ulang. Melihat itu, istrinya heran. "Bapak, kenapa? Dari tadi lompat-lompat melulu." Tanya istri. "Iya, Bapak lupa." Kata Pak Bagus. "Lupa. Kenapa?" Tanya Istri Pak Bagus tidak paham dengan jawaban. "Iya. Bapak kan baru minum obat. Di botol obat ada tulisan 'kocok sebelum diminum'. Bapak lupa ngocoknya. Jadi, Bapak lompat-lompat aja untuk ngocok obat yang sudah masuk perut. " =====

Klakson

Ini adalah cerita buah dari sebuah keramahan Pak Bagus sedang mengurus perpanjangan KTP. Antrian panjang sesampainya di kantor Catatan Sipil. Pak Bagus melihat seorang laki-laki tengah duduk dengan setumpuk berkas yang sepertinya menjadi bagian tugas dari laki-laki itu. "Assalamu 'alaikum, Pak." Sapa Pak Bagus. "Wa 'alaikum salam." Jawab laki-laki itu. "Mengurus apa, Pak?" Sambungnya bertanya. "Ini ngurus perpanjangan KTP. Lumayan panjang antriannya." Jawab Pak Bagus. "Sini Pak berkasnya, biar saya yang urus" Pintanya "Eh, nggak merepotkan, Pak? Bapak lagi banyak kerjaan, kan?" Tanya Pak Bagus "Nggak apa-apa, Pak. Kerjaan saya nanti bisa saya kerjakan." Katanya "Bapak yang sering klakson saya kan kalau pagi?" Tanya laki-laki itu pada Pak Bagus. "Iya, Pak." Jawab Pak Bagus "Saya senang dengan keramahan yang berikan." "Itu kan cuma klakson, Pak." K...

Kemampuan vs Kemauan

Seorang teman Pak Bagus menceritakan keluh kesahnya. Ia bercerita kehidupannya yang tak lepas dari kesulitan ekonomi. Padahal jika dilihat dari segi penghasilan yang diperoleh dari tahun ke tahun justru terjadi peningkatan yang lumayan. Mendengar keluh kesah temannnya, Pak Bagus berkata: "Sulit dan mudahnya hidup seringnya adalah akibat dari perilaku kita sendiri. Kalau mau tidak mengalami kesulitan dalam ekonomi rumah tanggamu, maka berperilakukan sesuai dengan kemampuanmu, bukan dengan kemauanmu."  =====