Rezeki
Pak Bagus mengikuti musyawarah pembangunan mesjid. Pada akhir acara dilakukan pengumpulan infaq pembangunan. Ia ambil uang satu lembar Rp. 50.000 yang merupakan satu-satunya penghuni dompetnya.
Sesampainya di rumah, Ia ceritakan pada istrinya bahwa uang 50.000 telah ia keluarkan sebagai infaq keluarga.
"Semoga Allah meridhoi dan memberi kita rezeki yang lebih, Pak." Kata istri Pak Bagus.
Sebelumnya istri Pak Bagus telah bercerita bahwa uang belanja telah tammat. Sementara gajian baru akan terjadi sepuluh hari ke depan. Hitung-hitungan istri Pak Bagus butuh uang Rp. 120.000 sampai waktu gajian agar tak mengutang.
Pak Bagus ingat kata-kata istrinya itu. Tapi, saat musyawarah ia bulatkan tekad untuk lebih mandahulukan berinfaq.
Keesokaan sorenya, teman Pak Bagus datang.
"Pak Gus, ini uang ngetik tugas saya minggu lalu. Maaf, telat bayarnya, Pak." Kata teman Pak Bagus sambil meberikan tiga lembar uang seratus ribuan.
"Allahu rabbi..." Pekik Pak Bagus dalam hati. "Engkaulah maha terpuji."
=====
Sesampainya di rumah, Ia ceritakan pada istrinya bahwa uang 50.000 telah ia keluarkan sebagai infaq keluarga.
"Semoga Allah meridhoi dan memberi kita rezeki yang lebih, Pak." Kata istri Pak Bagus.
Sebelumnya istri Pak Bagus telah bercerita bahwa uang belanja telah tammat. Sementara gajian baru akan terjadi sepuluh hari ke depan. Hitung-hitungan istri Pak Bagus butuh uang Rp. 120.000 sampai waktu gajian agar tak mengutang.
Pak Bagus ingat kata-kata istrinya itu. Tapi, saat musyawarah ia bulatkan tekad untuk lebih mandahulukan berinfaq.
Keesokaan sorenya, teman Pak Bagus datang.
"Pak Gus, ini uang ngetik tugas saya minggu lalu. Maaf, telat bayarnya, Pak." Kata teman Pak Bagus sambil meberikan tiga lembar uang seratus ribuan.
"Allahu rabbi..." Pekik Pak Bagus dalam hati. "Engkaulah maha terpuji."
=====
Komentar
Posting Komentar