Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2017

Sudah dibeli (2)

Lima tahun berlalu. Pemilu akan digelar kembali. Teman Pak Bagus yang anggota dewan kembali ikut sebagai caleg, datang lagi ke Pak Bagus. "Minta dukungannya lagi, Gus." begitu kata teman Pak Bagus pada Pak Bagus setelah obrolan panjang dan mengakhiri pertemuan saat itu. Sebuah amplop diberikan pada Pak Bagus. Setelah temannya pergi, Pak Bagus membuka amplop. Tiga ratus ribu isinya. Pada hari pemilihan, Pak Bagus memilih temannya itu. Setelah dilakukan penghitungan suara, teman Pak Bagus dinyatakan kembali menjadi anggota dewan periode berikutnya. Maka, duduklah teman Pak Bagus itu sebagai anggota dewan. Waktu berjalan. Istri Pak Bagus yang pegawai negara dan bekerja di luar daerah ingin mutasi ke daerahnya sendiri. Pak Bagus dan istrinya ingin hidup saling berdekatan tanpa terpisah jarak yang terkadang menyulitkan urusan dan komukasi. Mereka pun sepakat untuk mengurus mutasi. Dihubungilah teman Pak Bagus yang anggota dewan itu. "Oke, Gus, nanati aku urus. Ku ...

Sudah dibeli

Menjelang pemilu Seorang caleg, teman Pak Bagus walaupun tidak begitu akrab datang ke Pak Bagus. "Gus, mohon dukungan." begitulah kata-katanya. Kemudian "bla..., bla..., bla..." pembicaraan panjangpun terjadi. Bukan cuma omongan, orang itu memberikan satu amplop diakhir pembicaraan ketika Bapak mohon diri. Pak Bagus membuka amplop. Dua ratus lima puluh ribu. Jumlah terbanyak yang telah diterima Pak Bagus dari orang-orang sebelumnya yang caleg juga. Pada hari pemilihan, Pak Bagus pun memilih orang ini. Maka, jadilah dia anggota dewan. Waktu berjalan. Istri Pak Bagus yang pegawai negara punya urusan yang tak mudah. Pak Bagus teringat akan temannya yang telah jadi anggota dewan itu. Pak Bagus pun menceritakan hal yang ingin ia minta tolong kepada temannya yang telah anggota dewan. Temannya menyanggupi. "Nanti saya urus, Gus. Beberapa hari akan saya telpon kamu." begitu janjinya. Tiga hari kemudian, HP Pak Bagus berdering. Nama temannya yan...

Kebaikan akan berbuah kebaikan

Pak Bagus jadi supir angkot. Hari itu penumpang sepi, Pak Bagus hanya membawa satu penumpang. Di tengah jalan, seorang ibu dengan tiga anaknya melambaikan tangan menghentikan angkotnya. Pak Bagus menepikan angkotnya, terlihat wajah ragu si ibu. "Pak, ke simpang lampu merah, berapa ongkosnya?' tanya si ibu. "Delapan ribu, bu." jawab Pak Bagus. Semakin jelas wajah ragu si ibu. "Uang saya cuma lima ribu, boleh saya naik, Pak?" tanyanya. "Naiklah, Bu." kata Pak Bagus. Si Ibu pun naik. Sesampainya ditempat yang dimaksud, Ibu tersebut turun dan memberikan selamabar uang lima ribu pada Pak Bagus. "Simpan aja uangnya, Bu." kata Pak Bagus sambil menginjak gas perlahan meninggalkan si Ibu. "Terima kasih, Pak." terdengar ibu itu berucap. "Turun di depan bengkel mobil Jaya, mas ya?" ucap penumpang laki-laki yang sejak tadi menjadi satu-satunya penumpang dari terminal. Pak Bagus menepikan angkotnya. ...

Doa Pak Bagus (2)

Pak Bagus sakit keras. Kerabat dan teman silih berganti datang menjenguknya. Tak sedikit tanya yang diberikan mengapa Pak Bagus bisa sakit? Sudah bagaimana perkembangan kesehatannya? Pun, demikian dengan saran pengobatan. Ada yang menyarankan berobat ke dokter A, dokter B, minum ramuan A, ramuan B. Dari sekian saran, ada juga yang menyarankan Pak Bagus berobat ke 'orang pintar'. Sebagai seorang muslim, Pak Bagus tak mau mengobati sakitnya dengan cara yang salah, syirik pada Allah SWT. kemudian Pak Bagus berdoa pada setiap usai solatnya: "Ya rabb, Engkau tahu aku dalam keadaan sakit. Dan Engkau tahu bahwa dari beberapa temanku kemudian menyarankanku untuk berobat dengan cara menyekutukan-Mu. Aku tak mau itu, ya rabb. Kuatkan aku. Sehatkan aku. Aku tak tahu, berapa lama aku bisa bertahan dengan segala godaan untuk bertindak menyekutukan-Mu. Kuatkan aku, sehatkan aku, ampukan aku. Aku tak ingin menjadi hamba-Mu yang durhaka." air mata Pak Bagus mengalir. =====