Sudah dibeli
Menjelang pemilu
Seorang caleg, teman Pak Bagus walaupun tidak begitu akrab datang ke Pak Bagus.
"Gus, mohon dukungan." begitulah kata-katanya. Kemudian "bla..., bla..., bla..." pembicaraan panjangpun terjadi.
Bukan cuma omongan, orang itu memberikan satu amplop diakhir pembicaraan ketika Bapak mohon diri.
Pak Bagus membuka amplop. Dua ratus lima puluh ribu. Jumlah terbanyak yang telah diterima Pak Bagus dari orang-orang sebelumnya yang caleg juga.
Pada hari pemilihan, Pak Bagus pun memilih orang ini. Maka, jadilah dia anggota dewan.
Waktu berjalan.
Istri Pak Bagus yang pegawai negara punya urusan yang tak mudah. Pak Bagus teringat akan temannya yang telah jadi anggota dewan itu.
Pak Bagus pun menceritakan hal yang ingin ia minta tolong kepada temannya yang telah anggota dewan. Temannya menyanggupi.
"Nanti saya urus, Gus. Beberapa hari akan saya telpon kamu." begitu janjinya.
Tiga hari kemudian, HP Pak Bagus berdering. Nama temannya yang anggota dewan tertera dilayar menelponnya.
Setelah obrolan pembuka basa-basi, makalah sampai pada inti pembicaraan.
"Saya sudah urus yang kamu minta, Gus. Biayanya tujuh juta." katanya.
Pak Bagus terkejut dengan biaya yang tak diduganya.
"Nggak bisa kurang, Gus. Ini luar daerah." sambung temannya.
Pak Bagus tak berkutik.
=====
Seorang caleg, teman Pak Bagus walaupun tidak begitu akrab datang ke Pak Bagus.
"Gus, mohon dukungan." begitulah kata-katanya. Kemudian "bla..., bla..., bla..." pembicaraan panjangpun terjadi.
Bukan cuma omongan, orang itu memberikan satu amplop diakhir pembicaraan ketika Bapak mohon diri.
Pak Bagus membuka amplop. Dua ratus lima puluh ribu. Jumlah terbanyak yang telah diterima Pak Bagus dari orang-orang sebelumnya yang caleg juga.
Pada hari pemilihan, Pak Bagus pun memilih orang ini. Maka, jadilah dia anggota dewan.
Waktu berjalan.
Istri Pak Bagus yang pegawai negara punya urusan yang tak mudah. Pak Bagus teringat akan temannya yang telah jadi anggota dewan itu.
Pak Bagus pun menceritakan hal yang ingin ia minta tolong kepada temannya yang telah anggota dewan. Temannya menyanggupi.
"Nanti saya urus, Gus. Beberapa hari akan saya telpon kamu." begitu janjinya.
Tiga hari kemudian, HP Pak Bagus berdering. Nama temannya yang anggota dewan tertera dilayar menelponnya.
Setelah obrolan pembuka basa-basi, makalah sampai pada inti pembicaraan.
"Saya sudah urus yang kamu minta, Gus. Biayanya tujuh juta." katanya.
Pak Bagus terkejut dengan biaya yang tak diduganya.
"Nggak bisa kurang, Gus. Ini luar daerah." sambung temannya.
Pak Bagus tak berkutik.
=====
Komentar
Posting Komentar