Sudah dibeli (2)
Lima tahun berlalu. Pemilu akan digelar kembali. Teman Pak Bagus yang anggota dewan kembali ikut sebagai caleg, datang lagi ke Pak Bagus.
"Minta dukungannya lagi, Gus." begitu kata teman Pak Bagus pada Pak Bagus setelah obrolan panjang dan mengakhiri pertemuan saat itu. Sebuah amplop diberikan pada Pak Bagus.
Setelah temannya pergi, Pak Bagus membuka amplop. Tiga ratus ribu isinya.
Pada hari pemilihan, Pak Bagus memilih temannya itu.
Setelah dilakukan penghitungan suara, teman Pak Bagus dinyatakan kembali menjadi anggota dewan periode berikutnya. Maka, duduklah teman Pak Bagus itu sebagai anggota dewan.
Waktu berjalan. Istri Pak Bagus yang pegawai negara dan bekerja di luar daerah ingin mutasi ke daerahnya sendiri. Pak Bagus dan istrinya ingin hidup saling berdekatan tanpa terpisah jarak yang terkadang menyulitkan urusan dan komukasi. Mereka pun sepakat untuk mengurus mutasi. Dihubungilah teman Pak Bagus yang anggota dewan itu.
"Oke, Gus, nanati aku urus. Ku kabari kau nanti." begitu janjinya.
Seminggu setelah janji itu, Pak Bagus pun ditelpon. Setelah obrolan pembuka kemudian masuklah ke inti obrolan.
"Sudah ku urus, Gus. Ongkosnya kena dua puluh lima juta." begitu katanya.
Kaget Pak Bagus mendengar ongkos sejumlah itu, jauh di atas perkiraannya. Tawar menawar pun terjadi.
"Tolonglah aku, teman. Bukankah aku sudah menolongmu, sudah memilihmu waktu pemilu." kata Pak Bagus.
"Bukankah suaramu sudah kubayar, Gus? Sudah dibeli."
Pak Bagus tak berdaya.
=====
"Minta dukungannya lagi, Gus." begitu kata teman Pak Bagus pada Pak Bagus setelah obrolan panjang dan mengakhiri pertemuan saat itu. Sebuah amplop diberikan pada Pak Bagus.
Setelah temannya pergi, Pak Bagus membuka amplop. Tiga ratus ribu isinya.
Pada hari pemilihan, Pak Bagus memilih temannya itu.
Setelah dilakukan penghitungan suara, teman Pak Bagus dinyatakan kembali menjadi anggota dewan periode berikutnya. Maka, duduklah teman Pak Bagus itu sebagai anggota dewan.
Waktu berjalan. Istri Pak Bagus yang pegawai negara dan bekerja di luar daerah ingin mutasi ke daerahnya sendiri. Pak Bagus dan istrinya ingin hidup saling berdekatan tanpa terpisah jarak yang terkadang menyulitkan urusan dan komukasi. Mereka pun sepakat untuk mengurus mutasi. Dihubungilah teman Pak Bagus yang anggota dewan itu.
"Oke, Gus, nanati aku urus. Ku kabari kau nanti." begitu janjinya.
Seminggu setelah janji itu, Pak Bagus pun ditelpon. Setelah obrolan pembuka kemudian masuklah ke inti obrolan.
"Sudah ku urus, Gus. Ongkosnya kena dua puluh lima juta." begitu katanya.
Kaget Pak Bagus mendengar ongkos sejumlah itu, jauh di atas perkiraannya. Tawar menawar pun terjadi.
"Tolonglah aku, teman. Bukankah aku sudah menolongmu, sudah memilihmu waktu pemilu." kata Pak Bagus.
"Bukankah suaramu sudah kubayar, Gus? Sudah dibeli."
Pak Bagus tak berdaya.
=====
Komentar
Posting Komentar