Ingatkan Aku
"Kakak, adek, sudah solat?" Begitu pertanyaan rutin yang selalu diberikan Pak Bagus pada anak-anaknya setiap kali ia pulang dari musolla usai solat.
Kali ini juga ia melontarkan pertanyaan yang sama pada anak-anaknya. Entah untuk keberapa kalinya pertanyaan itu terlontar.
"Aku...?" tiba-tiba istri Pak Bagus bersuara. Maksudnya, bertanya mengapa ia tak ditanya dengan pertanyan yang sama dengan pertanyaan pada anak-anaknya.
"Ingatkan aku juga, mas. Masak anak-anak aja yang diingatkan untuk solat." kata istri Pak Bagus.
"Eh, iya. Ummi sudah solat?" tanya Pak Bagus
Selama ini Pak Bagus memang hanya melontarkan pertanyaan pada anak-anaknya. Jika anak-anak menjawab 'sudah' maka Pak Bagus akan memberikan kata pujian 'pinter' atau 'mantap'. Jika jawabannya 'belum' maka Pak Bagus akan segera meminta anak-anaknya bersegera dalam melaksanakan solat. Tak pernah Pak Bagus melontarkan pertanyaan itu pada istrinya. Ia berfikiran bahwa istrinya adalah orang dewasa yang tahu akan kewajibannya sehingga tak perlu diingatkan lagi.
Hari ini ia ditegur untuk juga mengingat istrinya yang kemudian Pak Bagus sadar ternyata itu adalah juga bentuk perhatiannya pada istri dan ia pun ingin nanti keluarga berkumpul bersama di surga. Seperti yang sering ia sampaikan pada istrinya.
=====
Kali ini juga ia melontarkan pertanyaan yang sama pada anak-anaknya. Entah untuk keberapa kalinya pertanyaan itu terlontar.
"Aku...?" tiba-tiba istri Pak Bagus bersuara. Maksudnya, bertanya mengapa ia tak ditanya dengan pertanyan yang sama dengan pertanyaan pada anak-anaknya.
"Ingatkan aku juga, mas. Masak anak-anak aja yang diingatkan untuk solat." kata istri Pak Bagus.
"Eh, iya. Ummi sudah solat?" tanya Pak Bagus
Selama ini Pak Bagus memang hanya melontarkan pertanyaan pada anak-anaknya. Jika anak-anak menjawab 'sudah' maka Pak Bagus akan memberikan kata pujian 'pinter' atau 'mantap'. Jika jawabannya 'belum' maka Pak Bagus akan segera meminta anak-anaknya bersegera dalam melaksanakan solat. Tak pernah Pak Bagus melontarkan pertanyaan itu pada istrinya. Ia berfikiran bahwa istrinya adalah orang dewasa yang tahu akan kewajibannya sehingga tak perlu diingatkan lagi.
Hari ini ia ditegur untuk juga mengingat istrinya yang kemudian Pak Bagus sadar ternyata itu adalah juga bentuk perhatiannya pada istri dan ia pun ingin nanti keluarga berkumpul bersama di surga. Seperti yang sering ia sampaikan pada istrinya.
=====
Komentar
Posting Komentar